Berawal dari menjadi Pengawas

Home / Motivasi / Berawal dari menjadi Pengawas

25 ribu, mungkin bagi mahasiswa uang segitu cukup bearti. Tau sendiri, sebagian besar, atau malah hampir semua, masih minta dari orang tua. Kalu satu kali makan 7 ribu, udah bisa buat 3 kali makan. Bisa ngirit satu hari, bisa ditabung atau beli yang lain.

Bagi seseorang yang belum pernah cari uang sendiri, terus menghasilkan sendiri, walaupun kecil, itu adalah sesuatu yang bisa bikin bangga. Seakan waktu 2 jam tidak lebih berarti dari 25 ribu.

Berawal dari jaga ujian, banyak sekali yang ingin jaga tapi bukan jadwalnya. Nama populernya ‘gambling’. Entah karena sekedar mengisi waktu luang, atau memang fokusnya adalah 25 ribunya :D. Tapi jujur, peserta pengawas ujian, sangat antusias sekali. Apalagi kalau dapat, langsung bilang,”Alhamdulillah, hoki banget oy..”, sambil senyum senyum gak jelas :D.

Sempat pas jaga aku berfikir tentang orang mencari uang, sebagai karyawan, atau sebagai wirausahawan. Aku termasuk orang yang suka bermimpi, menuliskan mimpi-mimpi, merancang kehidupan, dan juga menempel gambar-gambar tentang mimpi-mimpi itu.

Saat jaga, aku berfikir, betapa sedikitnya uang 25 ribu jika dihubungkan dengan kehidupan mendatang. 2 jam dibayar 25 ribu, misalkan sehari 8 jam itu berarti 100 ribu, dan sebulan sudah 3 juta. 3 juta sebulan berapa butuh untuk menabung, untuk kebutuhan sehari-hari, untuk beli rumah, beli mobil, beli pakaian, berwisata dan lain-lain?

Tiga juta bukan uang yang banyak. Setiap orang pasti lah ingin hidup mapan. Bisa makan bergizi, berpenampilan bagus, punya rumah yang nyaman, punya kendaraan yang nyaman. Butuh berapa lama jika kita punya gaji 3 juta/bulan untuk bisa hidup seperti apa yang kita harapkan?

Jika rumah harganya 500 juta, berarti 500/3 juta = 16, 6 tahun, dan itu berarti tidak makan. Berarti lebih 16 tahun baru punya rumah sendiri. Bagaimana dengan keinginan yang lain? untuk kebutuhan, menabung, beli mobil, pakaian berwisata?

Saya tidak mengajarkan tentang materialistik. Ini hanya hitung-hitungan. Sehingga kita punya rancangan hidup yang lebih baik, tidak hanya hidup sekedarnya, apalagi sekedar hidup.

Emang sih kalau kita sudah cinta dunia, sampai matipun tak kan pernah habis, ada aja yang kita kejar. Dari perempuan, anak-anak atau keluarga. Kemudia berlanjut, harta yang banyak, rumah, mobil yang mewah, perhiasan. Berlanjut di tanah atau properti yang bisa naik terus harganya dan berlanjut ke investasi atau uang yang bisa beranak pinak. Memang itulah kesenangan hidup.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa masa depan kita ada ditangan kita. Di tangan kita sendirlah masa depan kita. Kita lah yang bertanggung jawab atas suramnya atau cerahnya masa depan. Kita lah yang merancang, mendesain, mewujudkannya sekaligus menikmatinya.

Berawal dari semangat itu, bukan menjadi alasan hidup kita tidak sejahtera. Bukan salah orang tua, bukan salah orang lain tetapi itulah tanggung jawab kita. Kita sendirilah yang menetukan pilihan-pilihan hidup di sepanjang jalan kehidupan kita.

Saya hanya tidak ingin menjadi pecundang. Bagaimana mungkin bisa memberi manfaat bagi orang lain, jika tidak bisa mensejahterakan diri sendiri, alih-alih malah menyusahkan orang disekitar kita.

Keunggulan pemenang bukan dalam kelahiran yang mulia, IQ tinggi, atau dalam bakat. Keunggulan pemenang hanya berada dalam sikap, bukan kecakapan. Sejarah telah membuktikan bahwa hampir semua pemenang yang patut dikenang biasanya menghadapi rintangan sebelum mereka berjaya. Mereka menang karena mereka menolak untuk menyerah pada kekalahannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *