Scrum Framework

Home / Manajemen / Scrum Framework

Scrum merupakan framework untuk manajemen pengembangan software dengan karakteristik cekatan dan bersifat iteratif dan incremental. Scrum mendefinisikan dirinya fleksible, strategi pengembangan yang menyeluruh di mana seluruh team bekerja sebagai satu unit dalam mencapai sebuah gol yang sama.

Dalam menjalankan kerjasama antara anggota team, scrum menekankan lokasi fisik yang sama atau sarana online yang akrab antara semua member, dan juga pertemuan muka dengan muka setiap hari antara semua anggota team.

Prinsip kunci dari scrum adalah memahami bahwa dalam project yang tengah berlangsung, klien mungkin mengubah apa yang menjadi kebutuhan dan keinginannya. Perubahan sulit diadaptasi oleh framework pengembangan aplikasi yang bersifat tradisional.  Scrum menerima perubahan ini dan memaksimalkan seluruh anggota team untuk menyesuaikan perubahan mendadak ini.

Scrum mengadopsi permainan Rugby yang begitu mudah menyesuaikan diri semua anggota team setelah ada sedikit pelanggaran. Kemudian menyesuaikan diri inilah yang mengimpirasi scrum.

Scrum mempunyai 3 Role

  1. Product Owner
    Pengertian produk adalah tujuan dari proyek. Product Owner memastikan bahwa proyek berjalan sesuai yang diharapkan. Product Owner merupakan penjembatan antara client dengan team development. Product Owner akan menuliskan spesifikasi-spesifikasi sesuai cara pandang client, di lain pihak harus punya empati terhadap anggota team.
  2. Team Member
    Dilihat dari namanya jelas yaitu anggota-anggota team.
  3. Scrum Master
    Scrum Master akan mencegah hal-hal yang mengalihkan focus team. Scrum master akan membuat suasana kondusif supaya team dapat bekerja sama dalam mencapai goal.

Event penting dalam Scrum adalah sprint/iteration. Sprint merupakan unit dasar dalam development dengan Scrum. Sprint merupakan jangka waktu yang dibatasi pada suatu durasi 1 minggu, 2 minggu atau 1 bulan. Setiap sprint dimulai dengan planning meeting dan diakhiri dengan sprint review dan retrospective meeting.

scrumcycle

Scrum (kb): Sebuah kerangka kerja untuk menyelesaikan permasalahan kompleks dan adaptif, di saat yang bersamaan, menghasilkan produk bernilai tertinggi dengan kreatif & produktif. ~ Scrum Guide (Juli 2013), Ken & Jeff.

Kerangka Kerja vs Metodologi

Kerangka kerja kurang bersifat preskriptif. Metodologi lebih seperti obat yang hampir bisa dipastikan efektifitasnya jika diminum. Itu karena metodologi amat detail dalam mengatur orang-orang di dalamnya. Kerangka kerja, kebalikannya, hanya menjadi kerangka yang memberikan banyak ruang untuk improvisasi.

Scrum Guide hanya setebal 17 halaman. Sebagai pembanding PMBOK memiliki tebal 459 halaman. Hal ini jugalah yang menjadi alasan kenapa kesuksesan Scrum terkait erat dengan seberapa orang-orang di dalamnya bisa memiliki mindset Agile, juga terbiasa dengan praktik-praktik Agile.

Keuntungan kerangka kerja adalah dia lebih fleksibel untuk menangani banyak hal yang belum terprediksi, kompatibel terhadap berbagai macam praktik-praktik wajib yang berbeda-beda di tiap organisasi, dan mendorong SDM di dalamnya untuk menjadi pribadi yang dewasa.

Permasalahan Kompleks vs Permasalahan Non-kompleks

Yang menyebabkan sebuah masalah menjadi kompleks adalah banyaknya hal-hal yang belum diketahui. Masalah yang tidak kompleks adalah yang solusinya mudah untuk ditemukan, dan kita cukup yakin kalau solusi tersebut akan berkerja.

Membangun software seringkali merupakan masalah yang kompleks. Karena mayoritas software di lapangan adalah barang yang abstrak. Pemilik proyek pengembangan sebuah software sering kali belum tahu apa yang dia butuhkan di inisiasi proyek. Di tengah pembuatan software, seringkali pemilik proyek berubah pikiran tentang software yang dia mau. Ini belum berakhir, ketika dilempar ke pasaran, asumsi-asumsi yang dipegang si pemilik proyek masih memiliki kemungkinan untuk salah. Sehingga software tersebut kurang laku di pasaran.

Hal-hal yang tidak bisa diprediksi inilah yang akan ditangani oleh Scrum.

Juga berlaku sebaliknya, untuk software yang sudah jelas, dapat digambarkan dengan lengkap di awal, dan memiliki peluang komplain user yang amat kecil, software seperti ini tidak perlu dikembangkan dengan Scrum. Implementasi Scrum akan menambah biaya adaptasi, sementara keluarannya tidak akan terlampau beda.

Produk Bernilai Tinggi

Seperti yang disinggung di poin sebelumnya, respon pasar adalah salah satu hal yang sulit sekali diprediksi. Hal ini adalah hukum alam yang mencakup di semua lingkup bisnis, khususnya bisnis teknologi.

Scrum menangani ketidakpastian ini dengan menyusun urutan-urutan potongan-potongan pekerjaan berdasarkan nilai bisnisnya. Sesuatu yang memiliki nilai bisnis paling tinggi akan fokus dieksekusi terlebih dahulu. Disebut fokus karena ditargetkan dalam sebuah unit waktu kecil bernama ‘Sprint’—maksimum satu bulan. Selepas dari sprint ini, apa yang selesai dikerjakan bisa langsung dicoba ke pasar, dan respon pasar dapat segera dilihat, dan menjadi masukan untuk arahan bisnis ke depan.

Perlu digaris bawahi: hal diatas dilakukan secara rutin dan berulang-ulang. Didesain untuk menjadi mindset. Pengembangan software yang menggunakan Scrum, akan terus terkait erat dengan apa yang menurut user bernilai tinggi.

Kreatif

Di setiap akhir Sprint selalu ada sesi wajib khusus untuk membahas peningkatan performa tim di Sprint ke depan. Meski tim mungkin bisa saja puas dengan kondisi Sprint sebelumnya, tetap diinvestasikan waktu khusus untuk memikirkan hal baru apa yang berpotensi untuk dicoba dan membawa peningkatan.

Hal ini dilakukan secara berulang-ulang hingga menumbuhkan mindset continuous improvement.

Produktif

Ada banyak hal dari Scrum yang ujung-ujungnya menunjukan peningkatan produktifitas dari semua pihak. Namun singkatnya bisa terangkum ke hal berikut:

Dalam Scrum, developer akan sulit untuk idle. Tapi juga sulit untuk lembur.

Bisa sulit untuk idle karena developer diarahkan untuk menjadi dewasa dan secara mandiri berinisiatif mengerjakan pekerjaan yang dia bisa tangani. Di sisi lain, di Scrum, developer dituntut untuk terus menyeragamkan kemampuan teknisnya, meski setiap orang tentu memiliki spesialisasi masing-masing. Dengan begini, saat pengembangan berlangsung, setiap orang bisa berkerja bahu-membahu.

Sulit untuk lembur karena setiap kali pengerjaan, fokus developer hanyalah pada bagian-bagian yang disepakati dikerjakan di Sprint. Di mana jumlahnya sendiri diestimasi bisa dikerjakan dengan jam kerja normal. Kalau sudah bisa kerja dengan manajemen yang baik dari awal, kenapa harus lembur menjelang deadline?

Lebih Lanjut

Demikian penjelasan definitif mengenai Scrum. Jika ingin mengenal lebih jauh tentang penjelasan detail & isi dari Scrum itu sendiri, bisa menghadiri Scrum 101 di acara Dinner & Discuss kami setiap bulan, atau bisa juga dengan membaca Scrum Guide.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *